SANTRI DAN TINTA: SAKSI AMAL DI HARI HISAB
PT. Assrof Media - Monday, 29 September 2025 | 03:00 PM


Menulis telah lama menjadi inti dari tradisi keilmuan di lingkungan pondok pesantren dan madrasah. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah budaya yang membentuk cara berpikir dan berkarya. Menulis menawarkan keindahan tersendiri, memfasilitasi kreativitas dalam merangkai kata, baik dalam aksara Latin maupun Arab.
Sebagai seorang santri, konsistensi dalam menulis, baik tulisan Latin maupun Arab, adalah sebuah keniscayaan. Para ulama di masa lalu menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana utama untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Mereka dengan gigih mencatat setiap pelajaran yang mereka dapatkan. Semangat ini tercermin dari pesan Almuallim, guru kita, kepada salah satu santrinya, Ag. Mahfudz Birali, yang senantiasa menekankan pentingnya mendokumentasikan materi pelajaran.
Tujuan utama dari aktivitas menulis tidak hanya sebatas menjadi saksi amal kita di hari Hisab kelak, tetapi juga berperan krusial dalam menjaga kelestarian ilmu itu sendiri. Tak heran jika para ulama tak pernah berhenti menulis setiap ilmu yang mereka peroleh. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW: "Apabila engkau mendengarkan sesuatu (tentang ilmu), maka hendaklah engkau menulisnya walaupun di atas tembok" (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu No. 146).
Dari hadis tersebut, jelaslah bahwa menulis ilmu memiliki signifikansi yang sangat tinggi. Jika para syuhada kelak disaksikan oleh darah dan luka di sekujur tubuhnya, maka kita sebagai santri akan disaksikan oleh tinta yang tergores, keringat yang menetes, serta lembaran-lembaran kertas yang penuh coretan ilmu.
Adalah sebuah kekeliruan besar bagi siapa pun yang mengabaikan tradisi menulis atau mencatat pelajaran dengan dalih "ilmu itu di dalam hati, bukan di dalam buku." Pemahaman semacam ini menunjukkan kekeliruan dalam memahami konteks dan esensi menulis. Mengingat ilmu itu mudah sirna jika tidak dicatat, mengabaikan tradisi menulis justru akan menjerumuskan pada kebodohan.
Oleh : Alviansyah ( KPA )
Next News

SURAT TERAKHIR DI TAS LUSUH
2 months ago

BUDAYA LITERASI: JEMBATAN MENGENAL DUNIA
2 months ago

ADA KEBERKAHAN DI BALIK MENJAGA LINGKUNGAN
3 months ago

PERBUDAKAN SANTRI, BENARKAH?
3 months ago

ADA TUHAN DI SUDUT MATAKU
3 months ago

PEMUDA SOSOK PENJAGA KEDAMAIAN
4 months ago

ENAM PESANTREN TERTUA DI INDONESIA
4 months ago

PULAU MADURA DENGAN SEJUTA OBJEK WISATA
4 months ago

MENGENAL ISTILAH MATI SYAHID
4 months ago

LANGGAR DUKUR KAYU: SAKSI BISU PERJUANGAN DAN SEJARAH
5 months ago
